Nelayan Sudah Jumpai Nyale, Diperkirakan Melimpah Besok Pagi

LOMBOK TENGAH, SUARANUSA- Dari hasil Sangkep Warige masyarakat Kecamatan Pujut beberapa waktu lalu, ditetapkan Bau Nyale (tangkap cacing laut, red) jatuh yang pada tanggal 3 sampai 4 Maret atau bertepatan pada hari Rabu dan Kamis mendatang.

Berdasarkan informasi masyarakat, pagi tadi (Minggu, red) di sekitar Pantai Areguling, Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, beberapa nelayan menjumpai Nyale keluar dengan jumlah cukup banyak. Melihat semua itu, nelayan langsung turun menangkap.

“Tadi saya dibawakan Nyale sama nelayan. Kebetulan mereka sedang menyambangi keramba. Begitu melihat Nyale, mereka langsung menangkapnya di sekitar Pantai Areguling,” ungkap Kepala Desa Tumpak, Rosadi, Minggu, 28 Februari 2021.

Pada Sabtu kemarin, lanjut Rosadi, para nelayan Lobster juga banyak yang membawa Nyale. Hanya saja, tangkapan mereka tak sebanyak sekarang ini. Dengan adanya Nyale yang keluar tersebut, besok pagi dirinya bersama warga bakal turun Bau Nyale. Tidak hanya di Penyalek Areguling saja tapi juga di penyalek lainnya seperti di sekitar Tampah, Mawun dan lainnya.

“Nyale keluar hari ini dan kemarin, bukan berarti Nyale tidak ada yang akan keluar pada tanggal 19 dan 20 bulan 10 kalender Sasak yang jatuh pada Hari Rabu Kamis tanggal 3 dan 4 Maret mendatang,” ungkapnya.

Ia meyakinipun bahwa pada Kamis mendatang, tangkapan Nyale bakal melimpah ruah.

“Insya Allah, Rabu atau Kamis mendatang bakal lebih banyak Nyale yang keluar,” ucapnya.

Terpisah, menurut salah seorang tokoh budayawan Lombok Tengah, HL. Moh. Putria menjelaskan bahwa bulan kemarin merupakan Nyale Tunggak. Faktanya, pada Nyale Tunggak hasil tangkapan nyaris tidak ada. Sehingga ia memperkirakan dengan adanya Nyale yang keluar pagi tadi maka puncaknya adalah besok Senin pagi.

“Tadi pagi kan sudah ada Nyale yang keluar. Kemungkinan besok Senin pagi akan melimpah. Bisa dikatakan besok ini merupakan Nyale Poto (Nyale Akhir),” jelas mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lombok Tengah itu, saat dihubungi wartawan media ini via WhatsApp.

“Nyale itu dua kali sebenarnya, Nyale Tunggak dan Nyale Poto. Kalau Nyale Tunggak hasil tangkapan warga tak seberapa atau nyaris tidak ada, berarti Nyale Poto bakal banyak keluar, begitupun sebaliknya,” ungkapnya.

Namun demikian kata Putria, untuk tahun ini dirinya tidak ikut terlibat dalam pelaksanaan Sangkep Warige yang dilakukan oleh sejumlah tokoh di Pujut beberapa waktu lalu. Alasannya karena sudah ada himbauan, larangan dan pemberitahuan dari pemerintah bahwa tahun ini tidak ada pelaksanaan festival Bau Nyale seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan masyarakat pun ketika turun Bau Nyale kata dia, berdasarkan penafsiran dan pemahamannya terkait waktu pelaksanaan.

“Pas mau Sangkep Warige bulan lalu, saya diundang dan dijemput untuk hadir. Tapi saya tidak datang karena sudah ada larangan Bau Nyale di masa pandemi. Sebagai orang yang patuh dan taat pada pemerintah, saya patuhi itu,” pungkasnya. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *