Kongres Tahunan Asosiasi PSSI Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2019 membahas perkembangan olahraga sepak bola yang ada di NTB. Acara berlangsung di Pendopo I pada Sabtu, (06/07). Acara dihadiri oleh Bupati Lombok Tengah (Loteng) yang juga merupakan ketua umum PSSI Kabupaten Loteng, HM. Suhaili, FT dan Asosiasi Kabupaten (Askab) dan Asosiasi Kota (Askot) se-NTB.
Dalam sambutannya, Suhaili menyampaikan pembahasan dalam acara Kongres tahunan ini bertujuan agar kedepannya bisa lebih baik. Dengan hajatan dan niat yang tulus, ia berharap agar apa yang dilaksanakan hari ini menjadi berkah. Acara tersebut bertajuk membuka dan mengawali ikhtiar untuk membicarakan dan mengkaji berbagai hal yang berkaitan dengan ikhtiar dalam hal memfasilitasi generasi olahraga khsususnya cabang sepak bola. Mengingat olahraga sepak bola merupakan kegiatan untuk membangun jiwa, raga, bangsa, dan negara.
Disampaikannya, minat masyarakat sudah mulai tumbuh dan berkembang untuk menjaga kesehatan. Sehingga kiat – kiat membangun jiwa dan raga anak cucu ke depannya harus betul-betul diperhatikan. Oleh karenanya, melalui pertemuan ini, semua pihak diminta untuk memecahkan persoalan dalam memfasilitasi minat, bakat dan prestasi khususnya dalam bidang olahraga sepak bola. Dengan begitu, NTB ke depannya dapat menciptakan generasi yang mampu berprestasi, baik dalam kancah nasional maupun internasional.
Dijelaskan, olahraga sepak bola merupakan olahraga paling populer dan bermasyarakat. Mulai tingkat dusun, desa, kecamatan, provinsi dan seterusnya. Bahkan Sepak bola dapat menjadi industri tingkat internasional. Membangun dunia sepak bola termasuk kiat membangun manusia seutuhnya. Tentu, semua tidak terlepas dari pembangun masyarakat dan bangsa.
Sepakbola bukan tugas PSSI saja, jelasnya, sehingga diajaknya semua lapisan untuk semua bidang olahraga khusunya sepak bola untuk ikut andil dan berkontribusi memajukan perkembangan sepak bola. Sebagai pemangku amanah, sampai hari ini untuk olahraga cabang sepak bola di NTB masih dipandang sebelah mata. Dikarenakan fasilitas yang ada di NTB masih minim. Sehingga semua itu mulai sekarang menjadi tantangan pengurus PSSI untuk mengatasi setiap permasalah yang menjadi kendala perkembangan sepak bola di NTB.
“Dalam membangun sepak bola, PSSI punya kemauan dan semangat yang luar biasa namun belum didukung kemampuan secara maksimal. Saya sendiri yang diamanatkan sebagai ketua umum PSSI belum bisa mengemban amanah secara maksimal terutama dari segi pembinaan dan fasilitasi,” ungkapnya.
Terlepas dari semua persalahan itu, Suhaili mengapresiasi 2 atlet Loteng yang mewakili NTB di kancah nasional sebagai pemain futsal dan sepak bola wanita. Altel yang dimaksud, yakni M. Wildan (kiper Timnas Futsal U19) dan Baiq Amiatun Salihan (Pemain Timnas Sepak Bola Putri). “Mereka punya niat dan tekad berprestasi dalam olahraga sepak bola dan tentunya itu membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Bahkan merekan latihan sampai tertatih-tatih sehingga sekarang bisa membanggakan daerah tanah kelahirannya. Ironisnya, kita tidak memfasilitasi mereka dengan membangunkan sarana. Artinya, kita belum sungguh-sungguh. Terbukti, NTB belum ada perwakilan yang menggunakan baju PSSI untuk menjadi pemain nasional sepak bola. Sedangkan di Bali berkembang pesat. Dan kini bali united membuka cabang di Mataram, tentunya itu menjadi cambuk bagi kita. Kita tidak boleh kalah dengan Bali,” tegasnya.
Paling tidak, kata Suhaili, diakhir masa khidmahnya, ia akan mulai membangun stadiun sepak bola yang berstandar internasional. Semua itu diharapkan menjadi pemicu semangat pecinta olahraga khususnya cabang sepak bola. NTB didukung 6 infrastruktur dasar sehingga event bertaraf internasional mampu diselenggarakan di NTB. Infrastruktur kelas internasional yang dimaksud seperti; Airport, Pelabuhan, Jalan, Rumah Sakit, Hotel. Sirkuit Moto GP. Dengan begitu, NTB sangat memungkinkan mengadakan event tingkat internasional. NTB juga akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2022.
Ia memaparkan bahwa Loteng akan membangun GOR cabang olahraga, Stadiun sepak bola bertaraf Internasional pada 2020 nanti. Dengan harapan dapat mencetak bibit sepak bola yang handal dengan melibatkan komponen yang ada dari segala jenjang.
“Anggaran sepak bola dari Koni Provinsi hanya 20 juta. Ada pun bantuan sukarela tembus 41 juta. Sisa yang lain tertatih dengan apa adanya. Sehingga upaya pembinaan terkendala. Oleh karenanya perlu membangun niat dan membangun andil sepak bola. Jangan anggap kecil manfaat dunia sepakbola dalam membangun bangsa dan manusia seutuhnya” katanya.
“Kami akan merekomendasikan persoalan yang ada. Semoga ikhtiar kita ini mendapat ridho Tuhan yang Maha Kuasa. Seperti diketahui bersama di pusat juga masih berbenah, pada 27 Juli nanti kami diundang untuk persiapan KLB. Sungguh ironis kondisi PSSI namun semoga ini menjadi awal tumbuh dan berkembangnya dunia sepak bola di NTB,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depannya Askab dan Askot betul-betul mengikuti kongres ini meski dengan kondisi memperihatinkan. Ia sendiri merasa bersalah karena belum maksimal memberikan pengkhidmatan untuk sepak bola NTB. Padahal, secara nasional NTB bisa memenuhi agenda yang diprogramkan dan NTB punya nama di sisi Nasional. Oleh karenya, dibutuhkan sinergitas dalam membenahi setiap permasalahan yang terjadi. Semoga PSSI terhindar dari kepentingan pribadi dan kelompok. (ces)







