3 Desa di Loteng Dijadikan Pilot Project Penanganan Stunting

Sebanyak 3 desa di Lombok Tengah dijadikan pilot project penanganan stunting. Berdasarkan kajian, sudah ada 3 desa binaan pencegahan stunting  di Loteng yang dijadikan pilot project,  yakni, Desa Mantang Kecamatan Batukliang, Desa Tratak kecamatan Batukliang Utara, dan Desa Truwai Kecamatan Pujut. “untuk tahun ini, kami menggalakkan program di 3 desa tersebut,” kata ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) NTB, dr. Titi Pambudi Karuniawati, Sp.A, saat ditemui awak media di Bencingah Adiguna Praya, Jumat (06/09).
Menurutnya, berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 anak penyakit stunting cukup tinggi. Angka stunting di Desa Mantang, dan Desa Truwai rata-rata 30 persen dibanding daerah lain. Sehingga pihaknya tidak henti-henti melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Terutama di desa yang rawan stunting. Sehingga pihaknya bersama tidak henti-henti menggalakkan program untuk menangani  pencegahan stunting.
Dari hasil kajian, ungkapnya, untuk mencegah stunting  perlu meningkatkan kapasitas, baik dari orangtua maupun kader.  Oleh karenanya, untuk menangani stunting tersebut, Pemkab bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia, NTB menggalakkan program gerakan kesehatan ke tingkat Desa. Program tersebut tidak bisa terlepas dari peran banyak pihak untuk mencegah stunting di desa-desa rawan stunting.
“Kita membuat gerakan untuk pengentasan stunting melibatkan multi bidang. Tidak hanya dari bidang kesehatan saja. Akan tetapi, dari bidang-bidang yang lain, seperti BKMD, Desa, PKK, dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Disampaikan, pembinaan sudah berjalan awal tahun ini. Kemungkinan akan berjalan selanjutnya jika banyak dukungan.  Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan penyegaran pelatihan kepada Kader posyandu dan pihak terkait.
Adapun bentuk program yang dilakukan antara lain, program untuk orangtua yakni peningkatan pengetahuan mengenai stunting itu sendiri. Kemudian program yang kedua untuk anak. Anak akan dideteksi pertumbuhan dan perkembangannya.
“Kita akan berikan penyuluhan dan pelatihan kepada orangtua . Sementara, pihaknya bertugas untuk memonitoring bentuk pelatihan. Adapun bentuk pelatihannya kepada orangtua yakni pelatihan pemberian makanan tambahan atau asupan gizi,” jelasnya.
Lebih jauih dijelaskan, stunting disebabkan banyak hal, mulai dari faktor ekonomi, pengetahuan, lingkungan, gen, dan lainnya. Untuk target capaiannya sendiri, stunting di Loteng paling tidak bisa menurun 1 persen. Menuruntnya, penurunuan angka 1 persen sudah sangat tinggi. “Dinkes Provinsi NTB juga menargetkan penurunan angka stunting 1 persen. 1 persen sudah sangat banyak. Karena dari 1 persen sudah mencakup 1000 anak di Loteng,” pungkasnya.
Sementara, Kepala dinas kesehatan Loteng. H. Omdah, menjelaskan, penanganan stunting lebih kepada pencegahan mulai dari sejak ibu hamil sampai anak lahir. Namun, jika anak sudah lahir kemudian mengidap stunting maka pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi atau menyembuhkan. Pihaknya hanya mampu menjaga kesehatnnya secara umum saja. (ces)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *