Salah Satu Madrasah di Loteng Roboh, 6 Siswa Terluka

Madrasah Ibtida’iyah (MI) NW, Khairul Patihin, Dusun Kwang Jukut Desa Pringgarata Kecamatan Lombok Tengah roboh saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dari 30 siswa yang ada di dalam bangunan madrasah, sebanyak 6 siswa dikabarkan terluka. Salah satu siswa yang mengalami luka berat saat ini dalam proses pengobatan atau pijat  tradisional di rumahnya karena mengalami patah tulang dibagian paha sebelah kiri akibat tertindih reruntuhan bangunan. Sebelumnya korban sempat dibawa ke puskesmas namun karena patah tulang akhirnya pihak sekolah bersama keluarga korban mengambil inisiatif untuk rawat tradisional di rumahnya. Hal itu disampaikan Kepala MI NW Kwang Jukut, Jalaludin, pasca robohnya bangunan madrasah pada Selasa (03/09).
Disampaikan bahwa bangunan tiba-tiba roboh sekitar pukul 08.30 Wita saat proses belajar mengajar berlangsung. Bangunan yang roboh tersebut dibangun pada tahun 2012 dan terbagi atas 2 lokal ditempati oleh siswa kelas 3. Karena jumlah siswa kelas 3 sebanyak 30 orang, sekolah membagi menjadi 2 bagian, yakni kelas 3 A dan kelas 3 B. Di mana bangunan yang roboh tersebut merupakan kelas 3 A dan 3 B.
“Jumlah keseluruhan siswa kami sebanyak 110 orang siswa. Dan kelas 3 ini merupakan jumlah siswa yang paling banyak, yakni 30 siswa. Sehingga kita membaginya menjadi 2 kelas. Ada kelas 3 A dan kelas 3 B. Mengingat kepasitas ruangan tidak memungkinkan untuk kita gabung akhirnya kita bagi,” jelasnya.
Untuk sementara pihak sekolah membantu untuk biaya pengobatan siswa yang mengalami luka. Siswa yang mengalami luka antara lain, Sri Mulyani (patah tulang dibagian paha), M. Nizar (luka robek dibagian kepala), Desta Relda (luka dibagaian wajah), Sri Mulyani (luka ringan), Khaerun Nisa (luka ringan), dan Khairul Anam (luka ringan).
Dikatakan, pada saat bangunan roboh, kebetulan guru yang mengajar keluar sejenak untuk mengambil sesuatu di ruang guru dan begitu akan kembali ke kelas ruangan sudah roboh. Rohaini yang merupakan guru yang saat itu memberi mata pelajaran matematika sontak kaget melihat anak muridnya sudah tertindih atap bangunan.
“Struktur bangunan madrasah dibuat dari batako dan bambu beratapkan asbes. Rencananya kita juga akan memindahkan ruang kelas tersebut ke gedung yang baru. Namun terkendala ruangan yang masih tahap pembersihan jadinya kita tunda sembari membersihkan ruangan itu. Memang bangunan tersebut akan kita robohkan karena sudah tidak layak. Akan tetapi sudah roboh duluan. Untuk sementara waktu siswa yang kelas 3 akan kita liburkan karena kondisi siswa masih trauma dan belum focus untuk belajar,” pungkasnya.
Sementara, Inaq mardianto, warga sekitar madrasah memberikan keterangan ke wartawan. Disampaikan, bahwa pada saat kejadian robohnya madrasah, ia mendengar suara yang sangat keras. Awalnya ia mengira kalau itu suara tabung gas yang meledak. Sontak, ia bersama warga yang lain berlarian menuju sumber suara. Setelah mengetahui bahwa madrasah yang roboh ia bersama warga yang lain ikut membantu pihak sekolah mengevakuasi murid yang masih terjebak di dalam ruangan.
“Saat itu saya sedang berada di sawah dan mendengar seperti suara ledakan. Akhirnya berlarian bersama warga yang lain menuju sumber suara. Begitu sampai didekat madrasah kita lihat bangunan madrasah yang roboh. Melihat itu kita langsung menolong siswa dan suasana saat itu sangat mencekam oleh tangisan semua siswa. Kita pun ikut prihatin melihatnya. Telebih ada salah satu siswa yang mengalami patah tulang. Tentu saya tida tega melihatnya. Semoga ini bisa menjadi pembelajaran buat kita agar memperhatikan kondisi sekitar untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tandas Inaq Mardinato. (ces)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *