![]() |
| Air Mancur |
LOMBOK TENGAH (SUARANUSA), Komisi III DPRD Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) menilai rancangan kolam air mancur menari yang berada Ruang Tata Hijau (RTH) Alun-alun Tastura tidak sesuai konsep. Pasalnya, setelah proyek tersebut rampung pada akhir Desember lalu masih menyisakan beberapa kejanggalan akibat perencanaan yang tidak baik. Hal itu disampaikan ketua Komisi III DPRD Loteng, Andi Mardan, Jumat (07/02).
Dikatakan Mardan, pelaksanaan kontrak dalam hal ini pekerjaan fisik berupa air mancur mengalami perubahan spesifikasi teknis pekerjaan. Terbukti, ada pengurangan yang dilakukan dari segi diameter kolam. Dalam kontrak air mancur, volume kolam 20 diameter. Akan tetapi kenyataan di lapangan hanya 15 diameter. “Berdasarkan Contract Change Order (CCO) mengalami pengurangan. Seharusnya volume kolam air mancur 20 diameter. Jelas-jelas itu tidak sesuai konsep awal” tegasnya.
Ditegaskan, dengan menggunakan nozzle sebanyak 4 biji, tidak seharusnya diameter diperkecil. Item CCO untuk jumlah nozzle memang tidak mengalami perubahan. Dengan 4 biji nozzle yang bergoyang tentu tentu tidak tepat dengan luas kolam yang dikurangi menjadi 15 diameter. “Sudah jelas 4 biji nozzle yang goyang, tapi kenapa diameter harus diperkecil. Seharusnya diperbesar agar air tidak jatuh ke luar kolam,” kesalnya.
Pihaknya menyayangkan, dalam proses pengerjaan tidak sesuai CCO. Padahal, anggaran untuk pembuatan air mancur cukup besar. Sehingga bisa disimpulkan proyek air mancur tidak matang dalam perencanaan dan kualitas pekerjaan. “Bisa kita simpulkan proyek air mancur ini tidak baik dalam perancangan. Karena banyak kejanggalan yang kami temukan,” ungkapnya.
Adapun catatan lain dari komisi III, yakni terkait rabat area air mancur yang masih amburadul. Secara kasat mata, rabat area air mancur masih belum tertata rapi. Terlebih, pagar pembatas kolam belum tertata rapi dan terkesan asal-asalan. “Rabatan itu seperti rabat kandang. Untuk air mancur yang menjadi salah satu obyek swa foto tidak seharusnya seperti itu,” geramnya.
Selain itu, air mancur itu juga tidak mengganti air. Apapun alasannya, seharusnya air tersebut diganti paling tidak 2 kali seminggu. Dikhawatirkan, jika tidak diganti maka akan menutup pori-pori nozzle. Selain itu, apapun alasannya, uapan air mancur tidak boleh keluar kolam agar pengunjung tidak basah. “Ini kan sudah dikonsep matang. Kita tidak mau tau, harusnya uapan air itu tidak boleh keluar,” terangnya.
Pihaknya berharap, penataan air mancur segera dibenahi. Mulai dari tempat duduk, lahan parkir, lapak dagang, dan lainnya. Kerena, biar bagaimanapun proyek air mancur menelan anggaran yang cukup besar. Sudah tentu, dari pengeluaran tersebut mengharapkan retribusi. “Dengan kualitas air mancur seperti ini masih banyak yang perlu dibenahi. Masa pemeliharaan selama 6 bulan diharapkan dapat dimaksimalkan untuk menata kembali beberapa catatan yang kami sampaikan,” tandasnya. (wan)







