![]() |
| Kepala Desa Masmas, H. Habib |
LOMBOK TENGAH, SUARANUSA- Beberapa waktu lalu, Kamis (23/07) Kepala Desa Masmas Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah di Demo puluhan warga. Diduga, aksi demo tersebut lantaran masih ada dendam politik segelintir orang. Demikian disampaikan Kepala Desa Masmas, H. Habib, saat dikonfirmasi beberapa awak media di Rumahnya, Jumat (31/07).
Kuat dugaan Habib dikarenakan aksi demo tersebut dilakukan Mantan Sekdes Masmas tahun 2008-2013, Mantan TPK, Mantan Ketua BPD, mantan anggota BPD, dan mantan pengurus TPK. Selain itu, beberapa tuntutan warga saat itu terkesan ngawur dan dibuat-buat.
“Saat itu mereka mempersoalkan kenapa jalan wisata Masmas saja yang diperbaiki sementara jalan rusak yang dimaksud salah seorang warga berada di Desa Bebuak tidak diperbaiki. Ini kan aneh, tidak mungkin kita programkan pembangunan untuk Desa luar,” herannya.
Selain itu, lanjut Kades Masmas, massa demo meminta agar SPJ, LKPDes dan LPPDes ditunjukkan. Jelas-jelas SPJ ini adalah dokumen negara yang tidak bisa diberikan sembarangan.
“Untuk menunjukkan atau memberikan SPJ ini aturannya sudah jelas dan tidak bisa sembarang. Bahkan kepada BPD sekalipun tidak bisa diberikan. Karena kami selaku kepala desa bertanggung jawab kepada Bupati Lewat DPMD. Jadi, sangat tidak tepat kalau warga minta SPJ,” tegasnya.
Ditambahkan Habib, terkait dengan SPJ tersebut, pihaknya mengaku masih belum dikembalikan oleh isnpektorat untuk keperluan pemeriksaan.
“Camat Batukliang Utara juga sudah menjelaskan terkait aturan SPJ ini saat Ketua BPD mengundang pihak terkait, pada Senin (27/07) lalu,” jelasnya.
Tidak hanya itu, tambah mantan Ketua Pokdarwis Masmas itu, orator demo juga meminta agar staf desa, Ulil Azmi dikeluarkan dari kantor desa karena tidak memiliki SK.
“Saya tidak mungkin masuk dan bekerja di kantor desa jika saya tidak punya SK. Saya tidak perlu tunjukkan SK saya kepada setiap orang. Terlebih kepada orang yang tidak berkepentingan. Untuk diketahui, persoalan ini tidak murni karena SK itu tapi karena dendam pribadi pendemo kepada saya,” tambah Ulil Azmi memberikan klarifikasi.
Sementara, menurut salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan aksi demo tersebut diduga kuat karena unsur politik. Mengingat, sebuah poto waktu rapat persiapan satu malam sebelum aksi demo.
“Dalam poto tersebut ada mantan Kades bersama orang yang ikut demo. Saya curiga demo itu didasari dendam politik,” ungkapnya.
Kepala Desa Masmas juga menyayangkan pemberitaan di salah satu media daring yang mengatakan jumlah massa ribuan. Padahal faktanya tidak lebih dari 50 orang. Kemudian, adapun dalam berita tersebut mengatakan bahwa Kades dan ketua Bumdes tidak berani keluar menemui warga.
“Itu sama sekali tidak benar karena justru saya berkali-kali keluar untuk memberikan jawaban bahkan ketua Bumdes waktu itu mondar mandir untuk menjawab tuntutan warga. Akan tetapi, polisi waktu itu tidak mengizinkan saya dan ketua Bumdes untuk menjawab langsung. Dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” terangnya.
Pihaknya sangat berterima kasih kepada warga yang melakukan aksi demo. Artinya, warga sangat peduli terhadap segala pembangunan desa.
“Saya apresiasi warga yang melakukan aksi demo. Itu artinya mereka sangat peduli. Kami sebagai pemerintah desa juga sangat terbuka untuk menerima kritik dan masukan. Namun alangkah lebih elok jika kita selesaikan persoalan dengan duduk bersama. Kecuali saya tertutup dan enggan dikritik ya silahkan saja demo. Saya selalu terbuka menerima masukan demi kemajuan desa ini,” pungkasnya. (wan)







