Mataram, suaranusa – Kondisi secara global akibat konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah yang semakin menghangat belakangan ini cukup memberikan dampak pada tekanan pasar saham global, termasuk pasar saham Indonesia.
Meski demikian, sampai saat ini belum ada terlihat perpindahan aset keluar dari pasar saham di Indonesia maupun daerah.
Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menerangkan, pihaknya di BEI untuk fungsi dan tugasnya adalah menyelenggarakan perdagangan yang teratur, wajar dan efisien. Sedangkan keputusan investasi adalah murni kewenangan dari investor. Kemudian pergerakan untuk IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) adalah mekanisme pasar yang terjadi antara keseimbangan antara demand dan supply.
,“Kita belum melihat ada capital outflow yang sangat besar di pasar modal kita, semuanya masih dalam batasan yang wajar. Kita selalu berharap yang terbaik dengan pasar modal kita,” ucapnya dalam kegiatan workshop yang digelar oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Mataram,NTB, Rabu (24/4/2024).
Saat ini perkembangan terakhir kondisi geopolitik di Timur Tengah. Dimana pihaknya melihat bahwa para investor tentu akan mempertimbangkan hal tersebut dalam keputusan berinvestasi. Pihaknya juga selalu menyampaikan kepada para investor agar selalu mengambil keputusan investasi secara rasional.
“Artinya melihat kepada fundamental perusahaan, faktor-faktor eksternal seperti geopolitik yang terjadi di Timur Tengah tentukan akan memberikan dampak,” ucapnya.
Lebih lanjut, dampaknya tidak hanya seperti sekarang saja. Namun, sebelumnya sudah disampaikan bagaimana antisipasi dampaknya akan terjadi kedepannya. Salah satunya, terhadap bagaimana perkembangan tingkat suku bunga, baik di dalam negeri maupun global.
“Itu tentu juga akan menjadi perhatian investor, tentu investor akan memfactori faktor-faktor itu ke dalam investasi nya. Dinamika di pasar itu selalu terjadi setiap hari dan masih dalam range yang cukup wajar menurut kami,” terangnya.(SN.01)






