Lombok Tengah, suaranusa – Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Tengah menyebutkan bahwa secara umum, pada periode Maret 2015 – Maret 2024, tingkat kemiskinan di Kabupaten Lombok Tengah mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase, perkecualian pada periode Maret 2023.
Menurut Kepala BPS Lombok Tengah,Syawaluddin Siregar,bahwa kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode Maret 2023 dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu harga BBM yang naik pada akhir triwulan III Tahun 2022 berdampak pada naiknya harga kebutuhan pokok hingga saat ini.
,”Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin pada Maret 2024 dikarenakan berbagai faktor diantaranya inflasi yang relatif terkendali, perekonomian yang tumbuh positif, dan berbagai program intervensi kemiskinan yang dilakukan pemerintah,”ucapnya dalam rilis pada Kamis (25/7/2024).
Dimana jumlah penduduk miskin di Lombok Tengah pada Maret 2024 mencapai 122,32 ribu orang. Dibandingkan Maret 2023, jumlah penduduk miskin berkurang 7,42 ribu orang.
Sementara jika dibandingkan dengan Maret 2022, jumlah penduduk miskin berkurang 5,68 ribu orang. Persentase penduduk miskin pada Maret 2024 tercatat sebesar 12,07 persen, menurun 0,86 persen poin terhadap Maret 2023 dan turun 0,82 persen poin terhadap Maret 2022.
Garis kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan non makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Pada Maret 2024, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama. Beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 29,45 persen di perkotaan dan 33,72 persen di perdesaan.
Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (9,68 persen di perkotaan dan 6,83 persen di perdesaan).
Komoditas lainnya adalah daging ayam ras (3,29 persen di perkotaan dan 2,38 persen di perdesaan), telur ayam ras (2,97 persen di perkotaan dan 3,28 persen di perdesaan), roti (2,23 persen di perkotaan dan 2,57 di perdesaan), kue basah (2,28 persen di perkotaan dan 2,32 persen di perdesaan), cabe rawit (1,81 persen di perkotaan dan 1,80 persen di perdesaan), tongkol/tuna/cakalang (1,79 persen di perkotaan dan 1,97 persen di perdesaan), mie instan (1,78 persen di perkotaan dan 1,83 di perdesaan), dan seterusnya.
Komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan (6,89 persen di perkotaan dan 8,69 persen di perdesaan), bensin (5,64 persen di perkotaan dan 4,75 di perdesaan), listrik (2,90 persen di perkotaan dan 2,02 persen di perdesaan).
Urutan selanjutnya adalah sumbangan dari pendidikan; perlengkapan mandi; perawatan kulit, muka, kuku, rambut; sabun cuci; air, dan seterusnya.
Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.
Indeks kedalaman kemiskinan adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin.
Pada periode Maret 2023 – Maret 2024, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) maupun Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan pada Maret 2024 sebesar 1,56, turun dibandingkan Maret 2023 yang sebesar 2,12. Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan pada periode yang sama mengalami penurunan dari 0,52 menjadi 0,27
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut Garis Kemiskinan.
Garis Kemiskinan (GK) terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM).
Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita per hari. Paket komoditas kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditas (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).
Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditas kebutuhan dasar nonmakanan diwakili oleh 51 jenis komoditas di perkotaan dan 47 jenis komoditas di perdesaan.
Garis Kemiskinan per rumah tangga dihitung dari garis kemiskinan per kapita dikalikan dengan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga pada rumah tangga miskin.
Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan Maret 2024 adalah data Susenas bulan Maret 2024.(SN.02)






