Fenomena alam yang tidak menentu menjadi perhatian utama ketika hendak ke luar rumah. Apalagi ketika ingin bepergian ke tempat-tempat rawan bencana. Faktor cuaca yang tidak bisa diprediksi dan selalu berubah seperti peralihan dari musim hujan ke kemarau tentunya mengkhawatirkan bagi masyarakat. Terutama masyarakat yang hobi rekreasi ke alam.
Tidak seperti biasanya ungkap Kepala Dinas BPBD Loteng, H. Muhamad, biasanya dari bulan April smpai Oktober musim kemarau namun sekarang cuaca tidak bisa diprediksi. Selain itu, kalau sdh selesai nyale biasanya intensitas hujan menurun namun nyatanya intensitas hujan semakin tinggi.
Muhamad menghimbau agar masyarakat tidak melakukan pendakian ke Gunung Rinjani ataupun tempat yang dianggap rawan longsor mengingat kondisi tanah yang longgar akibat gempa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Ia mengingatkan agar untuk sementara waktu sampai kondisi cuaca kondusif jangan gegabah untuk melakukan pendakian. Kalaupun ada yang nekat hati-hati saja.
Tidak hanya akibat gempa lanjutnya, hujan dengan intensitas yang tinggi juga berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya longsor. Muhamad berharap, jangan sampai kejadian seperti di air terjun Tiu Kelep terulang lagi.
“Longsor terjadi karena kondisi tanah yang longgar akibat intensitas hujan tinggi disertai gempa,” ungkapnya
Selain itu, Ia (Muhamad) juga menghimbau agar nelayan berhati-hati ketika hendak melaut mengingat kindisi angin kencang yang bisa berpengaruh terhadap gelombang. Kalau ketemu cuaca kurang baik sebaiknya jangan melaut. Gelombang diperkirakan bisa mencapai 2 meter. “Dengan kondisi yang tidak jelas ini, kita tidak bisa berhitung dan memprediksi,” pungkasnya. (ces)







