Sebuah Catatan
Oleh : Lalu Pahrurozi
Ditengah pandemi yang tak jelas ujung berakhirnya; atau keriuhan Pilkada yang memancing pro-kontra dari berbagai kalangan, maka sebutlah catatan ini sebagai refleksi “Dua Tahun Kepemimpinan Bang Zul”, sebuah refleksi ringan agar kita senantiasa berada dalam keberuntungan. Seperti kalimat suci yang dititahkan dalam kitab suci : “kecuali mereka yang saling mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran…”
Entah teman kami itu memuji atau mencela, ia mengomentari kepemimpinan Bang Zul “Sebenarnya Bang Zul itu pintar, tapi ia seperti tak mengerti hendak melakukan apa sebagai Gubernur.” Pernyataan itu tentu kontradiksi pada premis-premisnya. Contradictio in terminis.
Mungkin premis pertama dia peroleh dari citra yang menghipnotis pikirannya bahwa Bang Zul pintar, sedangkan premis kedua ia temukan atas tumpukan fakta pembangunan NTB yang tampak kosong, stagnan, dan cenderung mundur ke belakang, pasca TGB.
Setahun lampau, Bang Zul membuat “powerpoint” yang cukup “cantik” terkait statistik kesuksesan dalam mencapai indikator RPJMD. Waktu itu, kami mengajukan kritik terhadap beberapa data yang salah kutip. Entah tahun ini, semuanya tampak sepi, tak tampak “power point” berseliweran.
Mungkin Bang Zul lagi sibuk, entah sibuk dengan apa. Yang tampak, puja puji dari banyak supporter, tapi ciri khas supporter ya begitu, riuh dan ramai, tapi noise yang terlampau banyak, sedang pesan kesuksesan tak tampak jelas.
Pertama, birokrasi yang labil. Dalam dua tahun kepemimpinan nya, Zul Rohmi telah melakukan lebih 15 kali mutasi. Bang Zul kadang menonjobkan orang tanpa alasan yang jelas, -kurang dua tahun, pejabat bisa dimutasi di 2-3 posisi-, rekrutmen SEKDA yang bertele-tele, isu “nepotisme” dalam promosi birokrat, dan sejumlah isu lainnya. “Hobi mutasi” ini hemat kami, menjadi sinyal yang buruk bagi birokrasi yang memerlukan “kemapanan” dalam perencanaan dan eksekusi program.
Mutasi yang kerap terjadi, melahirkan instabilitas dalam tata kelola, kekhawatiran birokrat akan dipindah setiap saat, sehingga alih-alih membuat “legacy” di masing-masing jabatannya, karena “keburu” dimutasi, ya bekerja apa adanya. Ombudsman dan Komisi ASN pun sempat menegur keras Pemprov NTB terkait prosedur mutasi yang dilakukan.
Kedua, ada seorang kawan yang menyebut cita-cita dan keinginan Zul Rohmi terlampau banyak tanpa menghitung kemampuan yang ada. Bang Zul ia ibaratkan seperti orang yang berbelanja di swalayan, semua ingin dibeli, semua dijanjikan tapi ia tak sanggup membayar belanjaannya di Kasir.
Cobalah dua tahun ini di tracking, janji surga membangun jembatan Sumbawa-Lombok, Kereta Gantung Rinjani, nasib jalur tol laut Badas-Surabaya yang seumur jagung, industrialisasi yang tak berwujud, zero waste yang konsepnya tak jelas dan makin meredup gaungnya.
Untungnya masih ada pelabuhan Gili Mas dan Mandalika MotoGP yang progres pembangunannya cukup bagus. Tapi sebentar dulu, hampir 80 persen pekerjaan di Gili Mas dan Mandalika diselesaikan pada zaman TGB.
Ketiga, awalnya kami menaruh harapan pada sihir “industrialisasi” yang dijanjikan Bang Zul; tapi rupanya yang dilakukan sebatas “industrialisasi citra”. Industrialisasi bukan diperuntukkan untuk memberi nilai tambah bagi komoditas unggulan NTB.
Sampai hari ini, jagung, sapi, rumput laut, kopi, cabe, bawang merah, beserta komoditas perikanan belum mendapatkan sentuhan apa-apa dari janji industrialisasi Bang Zul. Bahkan, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba muncul motor dan mobil listrik, yang sejujurnya membuat bingung banyak orang, apa yang sebenarnya Bang Zul ini maksudkan dengan industrialisasi.
Keempat, sudah 2 tahun lebih Bang Zul memimpin, masih saja Bang Zul memoles dirinya dengan citra artifisial yang tidak substansial dan tidak ada kaitannya dengan kinerja sebagai kepala daerah. Mungkin saja beliau tidak memerintahkan, tetapi beliau juga tidak melarang. Seperti naik motor, pakai kaos oblong bersendal jepit, tidur di masjid.
Sementara itu, disisi lain, publikasi terhadap kinerja sangat kurang. Mestinya Bang Zul belajar dari TGB bagaimana timnya mempublikasikan capaian pembangunan NTB di pentas nasional. Bang Zul, belajarlah!
Catatan penutup kami, tak banyak lagi waktu yang tersisa. Tak lebih dari dua tahun (2021-2022) untuk Bang Zul membuktikan janjinya dan memberikan kinerjanya bagi NTB. Hentikan pencitraan diri yang artifisial itu. Fokuslah pada dua hal: industrialisasi berbasis komoditas unggulan dan mengokohkan sektor pangan.
Untuk itu, penajaman APBD 2 tahun tersisa mutlak dilakukan. Berburu anggaran pembangunan dari Jakarta (APBN) pun wajib dikerjakan. Juga berburu investor swasta yang konkret. Apalagi Bang Zul selama ini dikenal sebagai jago lobi, namun dua tahun ini citra itu belum teruji dan benar-benar terbukti. Jangan sampai itu hanya kabar burung belaka.
Akhirul Kalam, mari kita mendaras potongan puisi dari Rendra, sebagai refleksi dua tahun bersama Bang Zul.
“Orang-orang harus dibangunkan/
Aku bernyanyi/
Menjadi saksi.
Kenyataan harus dikabarkan/
Aku bernyanyi/
Menjadi saksi.” (*)










